Kendari – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kabut asap dengan kategori sedang berpotensi menyelimuti sejumlah wilayah di Sulawesi Tenggara (Sultra) pada 20–22 Oktober 2026. Kota Kendari termasuk wilayah yang berpotensi terdampak pada 22 Oktober mendatang.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Kendari, Heri Purnomo, dalam siaran pers pemutakhiran informasi sebaran asap tertanggal 19 Oktober 2026, menjelaskan bahwa kabut asap masih teramati di wilayah Sultra dan sekitarnya berdasarkan hasil observasi serta pemantauan citra satelit Himawari 9.
Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang mendatar berkurang hingga kurang dari lima kilometer. Pengamatan di sejumlah stasiun BMKG, yakni Baubau, Kendari, Ranomeeto, dan Pomalaa, hingga pukul 10.00 WITA masih menunjukkan kondisi udara kabur akibat asap.
“Menjelang sore dan malam, sebaran asap berkurang kepekatannya dengan jarak pandang 8–9 kilometer,” demikian keterangan dalam siaran pers tersebut.
BMKG menjelaskan, pola angin yang umumnya bertiup dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan 2–20 knot turut memengaruhi penyebaran asap ke Sultra.
Asap yang berasal dari luar Sultra, khususnya wilayah Papua Selatan, Maluku, dan sekitarnya, terbawa angin hingga memasuki wilayah Sulawesi Tenggara. Sebaran tersebut kemudian bercampur dengan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lokal.
Berdasarkan prakiraan BMKG, pada 20 dan 21 Oktober 2026, kabut asap kategori sedang berpotensi terjadi di Kabupaten Kolaka dan sebagian wilayah Bombana.
Sementara itu, pada 22 Oktober, wilayah yang berpotensi mengalami kabut asap kategori sedang meluas. Selain Kota Kendari, wilayah tersebut meliputi Kolaka, Bombana, Kota Baubau, Buton, Buton Tengah, Buton Selatan, Buton Utara, Konawe Selatan, Konawe Utara, Konawe, Muna, dan Muna Barat.
BMKG juga mencatat hasil pemantauan satelit sensor VIIRS dan MODIS pada 18 Oktober 2026 mendeteksi 189 titik panas di Sulawesi Tenggara dengan tingkat kepercayaan rendah hingga tinggi.
Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di Kota Baubau sebanyak satu titik, Bombana dua titik, Buton satu titik, Konawe Utara satu titik, dan Muna satu titik.
Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa titik panas merupakan anomali suhu yang terdeteksi satelit dan bukan merupakan konfirmasi langsung adanya kebakaran di lokasi tersebut.
Dari sisi kualitas udara, indeks kualitas udara berdasarkan konsentrasi partikulat PM2.5 di Sultra pada periode 19–22 Oktober 2026 umumnya diprakirakan berada pada kategori baik hingga sedang. Kondisi tersebut berpotensi berulang dalam beberapa hari ke depan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air putih, serta menutup jendela ketika asap terasa pekat.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan penderita gangguan pernapasan, disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kondisi kabut asap berlangsung.
Pengguna jalan, transportasi laut, dan penerbangan juga diminta meningkatkan kewaspadaan apabila terjadi penurunan jarak pandang secara signifikan. Pengendara maupun operator kapal diimbau menyalakan lampu kendaraan atau lampu kapal untuk membantu keselamatan perjalanan.
BMKG mengajak masyarakat terus memperbarui informasi cuaca dan perkembangan sebaran asap melalui kanal resmi BMKG, termasuk situs www.bmkg.go.id, aplikasi Info BMKG, Instagram @bmkgmaritimkendari, serta WhatsApp BMKG Sulawesi Tenggara di nomor 08114005929.







